Oleh: gayul | November 5, 2009

Peraturan Persatuan Tenis Seluruh Indonesia

BAB I
PENDAHULUAN

  1. Umum

    Pokok-pokok Program Kerja PELTI 2002 -2007 disusun sebagai kelanjutan dari kegiatan pertenisan yang telah dicapai pada pelaksanaan Program Kerja PELTI 1998 – 2002.
    Program kerja ini diarahkan untuk meningkatkan kualitas pertenisan di Indonesia dalam rangka menunjang sumber daya manusia pada umumnya. Pelaksanaan program kerja selama rentang waktu 5 tahun mendatang dirinci dalam Rencana Kegiatan Operasional Tahunan serta pelaksanaan kegiatan insidental lainnya. Oleh karena itu pokok-pokok program kerja ini harus dapat dilaksanakan secara simultan dan integral oleh semua jajaran PELTI dengan menggunakan prinsip-prinsip koordinasi, informasi dan kesederhanaan.
    Upaya pembibitan petenis yunior dan peningkatan prestasi petenis serta kegiatan olahraga tenis di Indonesia terus dilakukan dalam waktu 5 tahun mendatang agar lebih merata di seluruh tanah air.

    Peningkatan upaya pertenisan perlu digalakkan melalui penyuluhan, perencanaan dan pelaksanaan yang mantap dan terpadu di seluruh wilayah Indonesia dibarengi upaya penyediaan sarana dan prasarana yang memadai.
    Mengingat tingkat persaingan di dunia tenis khususnya di Asia memasuki abad 21 semakin ketat maka perlu dilakukan penataan dalam pembinaan prestasi tenis di tanah air, sekaligus menunjang program Garuda Emas tahun 2007 KONI Pusat untuk Indonesia menjadi empat terbaik di benua Asia .

  2. Dasar

    Pokok-pokok program kerja PELTI berlandaskan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD & ART) PELTI dan kebijakan-kebijakan lain yang berlaku dalarn upaya pengembangan pertenisan di Indonesia.
  3. Maksud dan Tujuan

    Pokok-pokok program kerja ini dimaksudkan sebagai arah dan pedoman bagi seluruh jajaran PELTI dan masyarakat tenis pada khususnya serta masyarakat olahraga pada umumnya untuk upaya mengembangkan pertenisan dalam arti Was di Indonesia. Tujuannya adalah agar dijabarkan dan dilaksanakan untuk kegiatan pertenisan yang berdaya guna dan berhasil guna di seluruh jajaran PELTI.
  4. Pengertian

    Pokok-pokok program kerja PELTI ini adalah penjabaran pelaksanaan AD dan ART secara garis besar, dalam kurun waktu lima tahun mendatang , yang akan dirinci lebih luas ke dalam Rencana Kegiatan Operasional Tahunan serta kegiatan insidentil lainnya.
    Masyarakat tenis adalah kelompok masyarakat yang terlibat dalam kegiatan pertenisan yaitu Pembina, Pelatih, Pemain, Wasit dan Ofisial Pertandingan termasuk Penggemar dan Pendukung baik secara perorangan maupun badan/lembaga/dunia usaha.

  5. Ruang Lingkup dan Sistematika

    Pokok-pokok Program Kerja ini meliputi pengembangan organisasi, peningkatan sumber daya manusia, peningkatan sumber dana, peningkatan saran dan prasarana, peningkatan teknis serta peningkatan kuantitas pertandingan.

BAB II
PERMASALAHAN

Beberapa masalah yang terdeteksi dan harus dikerjakan dalam program jangka panjang memasuki tahun 2007 ini (dalam bentuk kerucut) :
Badan Tenis Yunior (Menengah)
Badan Tim Nasional (Puncak)
Program Kemandirian
Kepelatihan (Dasar)

Dalam pengamatan terlihat dengan jelas kalau keempat permasalahan di atas saling terkait, tak terpisahkan. Point 1 dan 2 serta paint 3 dan 4 merupakan dua sisi mata uang yang sama, berjenjang dalam proses pembinaan prestasi.

Kendala-kendala yang ada:
Sulitnya mencari sponsor untuk membiayai pertandingan maupun biaya petenis Yunior maupun Senior untuk tryout di dalarn negeri maupun luar negeri.
Kurangnya tenaga wasit maupun referee yang mempunyai badge ITF maupun wasit lokal yang mampu memimpin pertandingan.
Lapangan tenis yang mencapai standar ITF sangat minim, sehingga sulit mengadakan pertandingan di kota tersebut, perlu ditambah dan direnovasi.

BAB III
PENGURUS / ORGANISASI

Organisasi keolahragaan memiliki karakteristik tersendiri sesuai dengan sifatnya yang kompetitif, transfaran dan berkesinambungan. Struktur organisasi harus disesuaikan dengan kebutuhan dan tujuan organisasi, sehingga kinerja organisasi berjalan secara efisien dan efektif. Segi negatif dari penyusunan kerangka organisasi masih berlandaskan kepada jumlah personil yang akan atau harus ditempatkan dalarn organisasi tersebut.

Diharapkan individu-individu yang menempati jabatan dalarn struktur organisasi kepengurusan merupakan individu yang memiliki :
Latar belakang profesi yang sesuai dengan jabatan yang akan dipegangnya.
Dedikasi dan prestasi pada bidang tersebut.
Kerjasama dan kepemimpinan

BAB IV
PEMBINA DAN PEMBINAAN

  1. Pembina

    Orang/pecinta/penggemar olahraga tenis serta orangtua pemain, agar mampu menggunakan aktifitas tenis lapangan untuk menghasilkan atlit-atlit yang berprestasi.
    Pembinaan

    Dalam era otonomi daerah diperlukan pembinaan tenis yang teratur, mulai dari tingkat daerah (region) sampai tingkat nasional/internasional, meliputi:

  2. Atlit
  3. Wasit
  4. Ofisial
  5. Sarana dan Prasarana teknis

BAB V
PELATIH

  1. Umum
    Pelatih adalah sosok yang penting artinya bagi setiap atlit, oleh karena tanpa pengawasan dan bimbingan seorang pelatih prestasi yang tinggi akan sukar dapat dicapai. Seorang pelatih akan lebih mudah melihat kesalahan-kesalahan baik teknik maupun taktik yang dilakukan oleh atlit, daripada atlit sendiri.

    Motto:
    Apa yang dikiprahkan oleh atlit dalam pertandingan adalah cerminan dari apa yang telah diberikan, oleh pelatihnya dalam latihan.
    Tinggi rendahnya prestasi atlit bergantung pada tinggi rendahnya ilmu dan ketrampilan pelatih.

    Dengan semakin rapat dan padatnya frekwensi pertandingan, bermunculan atlit berbakat serta semakin meningkat standar prestasi, maka dituntut peningkatan kualitas serta jumlah pelatih melalui diperbanyaknya pelaksanaan pendidikan, penataran dan pelatihan dengan muatan ilmu pengetahuan dan, teknologi (IPTEK).

  2. Kepelatihan

    Pola pengembangan kepelatihan harus sarat dengan muatan IPTEK agar terjadi keseragaman metode kepelatihan mulai dari tingkat pemula sampai ke tingkat petenis advance yang paling utama dalam kehadiran IPTEK ini adalah juga mendidik/meningkatkan kemampuan mereka dalam penerapannya di lapangan hadirnya keseragaman metode kepelatihan memudahkan kerja pelatih yang menangani atlit nasional yang akan diberi kepercayaan tampil di team event , atau multi event membela nama bangsa dan negara tanpa kehadiran IPTEK ini maka pengembangan/peningkatan prestasi tenis hanya akan jalan di tempat.

    IPTEK: Kepelatihan yang mulai diperkenalkan di negara-negara maju tenis sejak pertengahan tahun 70 an tujuan utama hadirnya IPTEK tak lain untuk melakukan koreksi-koreksi terhadap tata cara pelatihan pemain melalui suatu penelitian secara ilmiah. Dalam IPTEK itu sendiri terangkum segala macam ilmu kepelatihan yang sebelumnya berdiri sendiri-sendiri menjadi suatu kesatuan yang saling terkait yaitu:
    Biomechanic berisi segala sesuatu yang menyangkut masalah gerak
    Physiologi berisi ilmu yang menyangkut kesiapan fisik
    Taktik yang berisi pengertian-pengertian taktk bermain
    Mental adalah sifat dan sikap atau keadaan yang berkaitan erat dengan masalah, phsycologies taktik dan tehnik.

BAB VI
PEMAIN

Meningkatkan jumlah, mutu serta sebaran dari segala lapisan masyarakat dan usia (Yunior, Senior dan Veteran) serta disiplin dan bersportivitas tinggi. Secara khusus dilakukan pengembangan tenis di kalangan anak-anak dan remaja disertai pembibitan dan pemanduan bakat yang sistimatis dan ilmiah.

  1. Pembinaan Usia Dini

    Diantara komponen terpenting yang memungkinkan tercapainya prestasi tinggi dalam pembinaan lapisan usia muda yang sering diungkapkan dalam konsep usia dini.

    Hal ini terlaksana atas dasar bukti-bukti sebagai berikut :
    Prestasi puncak dalam suatu cabang olahraga terkait dengan puncak usia berprestasi yang berbeda-beda pada setiap cabang olahraga, sesuai dengan karakteristik tuntutan dominan dalam aspek teknis, fisik dan mental.
    Bukti-bukti pada tingkat internasional dan nasional menunjukkan bahwa prestasi itu dicapai setelah menempuh proses pembinaan antara 8-12 tahun secara berkesinambungan. Pembinaan dan Pelatihan yang terputus-putus tidak akan mampu menghasilkan prestasi optimal.

  2. Mini Tenis

    Melanjutkan program Mini Tenis agar lebih berkembang dan mencakup semua propinsi dan kabupaten, diutamakan sekolah dasar. Mengadakan sebanyak mungkin turnamen-tumamen Mini Tenis, diakhiri dengan pertandingan antar Propinsi (final).

  3. Badan Tenis Yunior (BTY)

    Badan inilah yang jadi sentra pembinaan. Para yunior di kelompok umur 14 dan 16 tahun. Alasannya, di negara-negara maju khususnya di bagian putri petenis di kedua kelompok umur ini sudah berkiprah di tingkat dunia.

    Sedangkan untuk tingkat Asia kiprah mereka baru di usia kelompok umur 18 tahun, suatu hal yang sudah sangat terlambat di era abad 21 nanti. Meningkatkan kerjasama diantara negara-negara Asia/Oceania, khususnya dengan negara-negara Asean dalam hal tukar-menukar wild card dan petenis, khususnya yunior.

  4. Program Pembinaan

    Menyeluruh Program pembinaan yang berjenjang dan berkesinambungan, yang dilaksanakan sejak tahap pengenalan keterampilan dasar pada usia dini hingga lapisan top nasional merupakan kunci dad pencapaian sukses yang diharapkan. Persoalan yang kita hadapi adalah bahwa kita belum mampu membangun landasan pembinaan yang kuat dan melaksanakan program bermutu yang memungkinkan atlit muncul ke permukaan di tingkat nasional dan internasional, jadi proyeksi pembinaan harus sampai pada tingkat dunia. Jika orientasi ini tidak dirintis sejak awal, mustahil kita mampu bersaing dalam event internasional.

    Perencanaan program semacam ini memang memerlukan beberapa prasyarat, seperti pemenuhan fasilitas berlatih yang memenuhi standar mutu yang tinggi, metode pelatihan yang mutakhir.

    Pembinaan olahraga prestasi memerlukan biaya tinggi dan pengorbanan dad para pelakunya. Kelemahan yang kita jumpai adalah bahwa prasyarat tersebut tidak terpenuhi sehingga sukar dicapai prestasi tinggi.

    Mengusahakan sebanyak mungkin petenis Yunior maupun Senior yang mempunyai rangking ITF. Kita telah mempunyai lebih dari 40 petenis yunior dengan rangking ITF dan lebih dari 10 petenis senior yang mempunyai rangking ITF.

  5. Badan Tim Nasional (BTN)

    Untuk jangka panjang Badan Tim Nasional berubah status kedudukannya seperti yang berlaku saat ini. Pada saat itu, BTN cukup mempersiapkan (mengumpulkan) pemain tiga minggu (tergantung dari event entry deadline) sebelum hari H.

    Dibidang prestasi, kita telah berhasil masuk ke World Group Final baik putera maupun puteri, dan Fed Cup juga berhasil masuk World Group Qualifying. Tim putera berhasil tetap bertahan di Group 1 perlu lebih ditingkatkan.

  6. Program Kemandirian

    Program Kemandirian pada dasarnya merupakan suatu usaha organisasi dalam memandirikan pemain untuk menjadi petenis pro murni. Dengan demikian organisasi akan lebih memusatkan pengembangan peningkatan prestasi pada petenis yunior (mereka yang berada di Badan Tenis Yunior).
    Mandiri dimaksud adalah pembinaan prestasi para pemain diserahkan di bawah asuhan perorangan, badan atau klub.

BAB VII
PERTANDINGAN DAN PEMIMPIN/PETUGAS PERTANDINGAN (OFISIAL)

Pertandingan atau kejuaraan merupakan arena untuk mengaplikasikan segala kemampuan yang dimiliki dan juga merupakan titik kulminasi puncak dad hasil latihan sebagai suatu proses pembinaan frekuensi pertandingan yang teratur, terarah dan berjenjang akan memberi peluang kepada atlit dalam meningkatkan prestasinya.

Sebagaimana layaknya suatu organisasi olahraga diantaranya bertanggungjawab sebagai administrator, regulator, fasilitator dan juga sebagai penyelenggara kegiatan haruslah merencanakan, mengatur, dan melakukan dengan sebaik-baiknya. Untuk dapat melakukan ha-hal seperti yang telah disebutkan diatas, khususnya penyelenggaraan suatu kegiatan pertandingan, diperlukan sumber daya dengan kualitas yang dapat diandalkan, serta kuantitas yang dapat memenuhi kebutuhan, disamping mempunyai sikap profesionalisme, bermoral, jujur dan berdedikasi tinggi.

Para petugas (wasit, referee, dll) yang dikriteriakan pada unsur-unsur diatas, akan didapatkan melalui proses pendidikan dan pengalaman di lapangan. Untuk mencapai tujuan tersebut, PB PELTI menempuh dua jalur, yaitu: jalur pendidikan, dengan mengadakan pendidikan wasit tingkat nasionaf dan internasional; sedangkan jalur verrtikal, memberikan pengalaman lapangan kepada para petugas yang potensial.
Memperbanyak turnamen-turnamen nasional, internasional baik yunior maupun senior. Untuk tahun 2003 ada minimal 5 turnamen junior ITF, 2 Men’s Futures, 4 Satelite dan 1 Davis Cup Asia Oceania Qualifying. Turnamen Nasional akan terus bertambah dengan dipermudahnya syarat-syarat untuk menjadi Turnamen Diakui PELTI (TDP) baik yunior maupun senior.

BAB VIII
SUMBER DANA DAN PARTISIPASI MASYARAKAT

  1. Sumber Dana

    Mergupayakan dana untuk menunjang kelancaran operasional organisasi PELTI yang diperoleh dad berbagai sumber sesuai dengan ketentuan dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga PELTI.

  2. Partisipasi Masyarakat

    Olahraga kemasyarakatan yang berorientasi pada kesehatan dan kebugaran akan semakin berkembang sebagai kebutuhan masyarakat, satu bentuk respons kultural yang dibangkitkan oleh gaya hidup yang berubah akibat faktor ekonomi.

    Kegiatan olahraga itu sendiri yang kini telah mendunia pada hakekatnya kaya akan nilai sekaligus membentuk budaya yang bersifat internasional. Sistem nilai berprestasi dalam suasana kompetisi, perencanaan jangka panjang, sportivitas, merupakan contoh dari nilai inti yang terdapat dalam olahraga.

    Suatu lingkungan masyarakat yang masih belum mampu meresapi makna berprestasi dalam segala aspek termasuk olahraga akan tetap sukar untuk diajak berpartisipasi
    dalam olahraga. Untuk kelompok masyarakat seperti itu maka perlu difikirkan perlakuan khusus dalam pembinaan mulai dari sekedar berpartisipasi olahraga untuk tujuan hiburan dan kesehatan untuk kemudian beralih kearah prestasi. Namun perubahannya

    memerlukan proses yang cukup lama, sehingga program “Potong Kompas” hanya akan menghasilkan kemajuan semu, misalnya dengan cara mengambil pemain dari luar daerah untuk kepentingan sesaat (PORDA & PON). Tidak mengherankan bila terdapat gejala ‘ perbedaan perkembangan olahraga antara beberapa propinsi di Indonesia , selain dipengaruhi oleh perbedaan pemikiran fasilitas olahraga dan sumber daya manusia, tingkat perkembangan daerah dan prestasi terhadap olahraga sangat berpengaruh.

BAB IX
SISTEM PENGHARGAAN

Pengembangan sistem penghargaan dimaksudkan sebagai faktor pengukuh partisipasi dalam olahraga prestasi, disebabkan oleh perubahan watak olahraga dari sekedar hobi menjadi kegiatan terlembaga sebagai pekerjaan.
Para atlit top dan juga pelatih menghabiskan waktunya untuk latihan dan mengikuti kejuaraan/pertandingan sepanjang tahun. Memang telah disadari dampak sosial ekonomi yang cukup kritis di Indonesia perihal masa depan para olahragawan agar mampu hidup mandiri setelah tidak menjadi atlit ataupun pelatih. Profesionalisme dalam pengertian yang sebenarnya belum tumbuh di Indonesia yang memungkinkan para olahragawan hidup bergantung pada penghasilannya.

BAB IX
KESIMPULAN

Kerja besar yang bila sanggup kita kerjakan dengan sungguh-sungguh maka berawal dari tahun 2002 (satu periode kepengurusan) akan terjadi keseragaman metode kepelatihan yang sarat IPTEK sejak pertenisan pemula sampai jenjang advance yang nantinya bermuara pada tingkat pemain-pemain pro.

Hasilnya, prestasi petenis kita di era ini akan mampu berjalan sejajar dengan kekuatan tenis Asia lainnya.
Yang paling utama dalam pembinaan/pengembangan tenis di tanah air bahwa menginjak abad 21 program kemandirian pemain sudah terlaksana. Karena dengan terlaksananya proyek mandiri ini maka kebiasaan yang menjurus pada keharusan organisasi yang selama ini (sudah berpuluh-puluh tahun berlangsung) dengan memanjakan pemain-pemain senior nasional dengan biaya-biaya pertandingan baik alam maupun luar negeri berakhir.

BAB XI
PENUTUP

Pencapaian prestasi dalam olahraga memerlukan biaya dan pengorbanan yang mahal. Prestasi puncak standar internasional akan dapat dicapai jika sejak awal program yang dirancangkan dan dilaksanakan itu berorientasi ke tingkat dunia.
Berhasilnya program kerja PELTI tergantung pada peran aktif para Pembina dan Pengurus disemua tingkat kepengurusan serta sikap mental, tekad, semangat, ketaatan serta disiplin masyarakat tenis diseluruh Indonesia .
Selambat-lambatnya 3 (tiga) bulan setelah Kepengurusan PELTI masa bhakti 2002-2007 dilantik, diharapkan Rencana Operasional Tahunan telah disusun.

Ditetapkan di : Makassar
Pada tanggal : 17 Desember 2002

 

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: