Oleh: gayul | Desember 12, 2009

Anemia Dan Efeknya Bagi Penderita

KD Menyerang Anak-Anak
Hot Topic Fri, 25 May 2007 16:00:00 WIB

Anemia atau orang awam sering menyebutnya Kurang Darah (KD) biasanya dihubungkan dengan ciri kondisi tubuh 3 L; letih, lemah, dan lesu. Kondisi itu terjadi akibat berkurangnya kandungan zat besi di dalam darah. KD tak hanya milik orang dewasa tapi anak-anak pun bisa terserang. Sekitar 100 jiwa atau 1 diantara 2 penduduk Indonesia menderita anemia.
Boleh jadi Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) Tahun 2004 yang menunjukkan tingginya kejadian anemia pada kelompok usia sekolah dan lebih sering terjadi pada wanita menjadi alarm bagi para orangtua. Sebab hasil dari SKRT 2004 itu menunjukkan angka persentase anemia defisiensi besi (ADB) terjadi pada 39 persen balita dan 24 persen pada usia 5-11 tahun.
Ketua III Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (PP IDAI) dr Soedjatmiko, SpA (K) mengungkapkan, anemia di Indonesia tahun 2000 adalah 8,1 juta anak balita (40,5 persen), 17,5 juta anak usia sekolah (47,2 persen), 6,3 juta remaja putri (57,1 persen), 13 juta wanita usia subur (39,5 persen), 6,3 juta ibu hamil (57,1 persen).
Prevalensi anemia pada anak balita, yakni 337 per 1.000 anak laki-laki dan 492 per 1.000 anak perempuan. Prevalensi usia 5-14 tahun 428 per 1.000 anak lelaki, dan 492 per 1.000 anak perempuan. Kondisi itu tentu saja menggusarkan pikiran Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari SpJP(K) dalam sambutannya di acara Kampanye Antianemia yang digelar di Departemen Kesehatan, Maret lalu. Dikatakan Menkes bahwa di Indonesia,

jumlah penderita anemia yang berasal dari kelompok anak usia sekolah (6-18 tahun) mencapai 65 juta jiwa. Andaikan angka itu digabung dengan penderita anemia usia balita, remaja putri, ibu hamil, wanita usia subur, dan lansia, jumlah total mencapai 100 juta jiwa. Secara umum bisa dikatakan bahwa satu di antara dua penduduk Indonesia menderita anemia.
Lanjut Siti Fadilah, jika mayoritas anak perempuan menderita anemia, dampaknya akan berlanjut. Mengingat, mereka adalah para calon ibu yang akan melahirkan generasi penerus. Jika tidak ditanggulangi, dikhawatirkan akan meningkatkan risiko perdarahan pada saat persalinan yang dapat menimbulkan kematian ibu. Calon ibu yang menderita anemia bisa melahirkan bayi dengan berat lahir rendah.
Anemia Turunkan Kecerdasan
KD yang terjadi pada anak-anak dapat menggangu proses tumbuh kembangnya. Bahkan perkembangan berpikir juga bisa terganggu dan mudah terserang penyakit. Anemia yang terjadi pada seseorang bisa muncul karena bawaan (kongenital), akut atau kronik, tidak berbahaya atau berbahaya menyangkut kehidupan, dan berat atau ganas.
Menurunnya jumlah sel darah merah dalam tubuh juga bisa terjadi karena zat gizi besi digunakan untuk kepentingan lain (di luar untuk pembuatan sel darah merah). Hal ini terjadi, misalnya, akibat kekurangan asam lambung, penyakit pada sumsum tulang, kekurangan zat gizi yang diperlukan untuk pembentukan atau memproduksi sel-sel darah merah seperti asam folat, vitamin B12, dan lainnya.
Anemia adalah gejala kekurangan (defisiensi) sel darah merah karena kadar hemoglobin yang rendah. Kekurangan sel darah merah akan membahayakan tubuh. Sebab sel darah merah berfungsi sebagai sarana transportasi zat gizi dan oksigen yang diperlukan pada proses fisiologis dan biokimia dalam setiap jaringan tubuh.
Pada kadar yang normal, jumlah rata-rata sel darah merah/mm pada laki-laki adalah 5.200.000. Sedangkan pada wanita 4.700.000. Apabila seseorang mempunyai jumlah sel darah merah di bawah angka normal tersebut, berarti dia menderita anemia.
Berdasarkan kriteria WHO, seseorang mengalami anemia bila kadar Hb <11 g/dl pada usia kurang dari 6 tahun dan kadar Hb <12 g/dl pada usia lebih dari 6 tahun. Pada anak usia sekolah dan pra sekolah, anemia defisiensi besi bisa mengganggu proses tumbuh kembang dan perkembangan otak. Perkembangan berpikir juga bisa terganggu dan mudah terserang penyakit, demikian penjelasan Dr Djajadiman Gatot SpA(K), spesialis anak dari Divisi HematologiOnkologi Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI/RSCM.
ADB bisa berakibat pada gangguan tumbuh kembang, gangguan kognitif (belajar) serta penurunan fungsi otot, aktivitas fisik dan daya tahan tubuh. Jika daya tahan tubuh menurun, maka risiko infeksi pun akan meningkat. Anemia bisa terjadi saat masih bayi. Bila ini terjadi, tentunya bisa berdampak pada prestasi mereka saat usia prasekolah dan sekolah. Akibatnya, bisa terjadi gangguan konsentrasi, daya ingat rendah, kapasitas pemecahan masalah dan kecerdasan intelektual (IQ) yang rendah, serta gangguan
perilaku.
Hal senada juga diungkapkan Soedjatmiko, bahwa anemia membuat transfer oksigen yang memperlancar metabolisme sel-sel otak terhambat, metabolisme lemak mielin yang mempercepat hantar impuls saraf, perilaku, serta konsentrasi terganggu.
Jika terkena anemia defisiensi gizi saat bayi, maka ketika memasuki prasekolah dan usia sekolah akan terganggu konsentrasi, daya ingat rendah, kapasitas pemecahan masalah rendah, tingkat kecerdasan lebih rendah dan gangguan perilaku.
Anemia pada anak bisa terjadi karena berkurangnya produksi sel darah merah, hilangnya sel darah merah akibat perdarahan serta adanya penghancuran sel darah merah atau hemolisis. Misalnya keracunan obat tertentu yang menyebabkan darah pecah sehingga kadar Hb menurun.
Diagnosis dini diperlukan untuk menentukan pengobatan yang tepat. Kebanyakan orangtua terlambat membawa anaknya datang ke dokter, yaitu saat Hb-nya turun sampai 5-6 g/dl. Umumnya, para orangtua tidak menyadari anaknya anemia karena terlihat biasa saja dan tidak seperti anak yang sakit.
Untuk mencegah terjadinya anemia peran serta orangtua sangat diperlukan. Perhatian lebih juga diperlukan ketika seorang anak memasuki masa emas atau titik-titik kritis tumbuh kembangnya, yaitu mulai usia 0-15 tahun. Pada usia 0-2 tahun terjadi pertumbuhan dan perkembangan otak yang pesat, yang akan menentukan kecerdasannya di kemudian hari. ADB harus segera ditangani dengan pemberian preparat zat besi dan mengatasi penyebabnya. Gizi menjadi faktor utama dalam penanganan ADB ini.
Memasuki masa remaja (usia 9-15 tahun), organ reproduksi anak mengalami proses pematangan dan terjadi perubahan hormonal yang bisa meningkatkan perilaku berisiko. Untuk memenuhi kebutuhannya, diperlukan investasi kesehatan, gizi dan pendidikan pada bayi, ibu dan balita. Ini penting, sebab kelak akan menentukan kualitas SDM suatu bangsa.
Kekurangan gizi dapat menyebabkan pertumbuhan tinggi dan berat badan dibawah normal, penurunan tingkat kecerdasan, dan gangguan pada system saraf serta otak. Anemia sering ditemukan pada anak-anak dan remaja. Anak perempuan lebih tinggi risikonya karena mengalami menstruasi.
Ketika anak perempuan duduk di bangku SMA, mereka masih terancam anemia karena pada usia itu mulai sadar penampilan sehingga mulai menjalankan diet ketat. Hingga kini belum ada program pemerintah untuk menanggulangi anemia pada pelajar. Program pemerintah baru ditunjukkan pada ibu hamil agar tidak melahirkan anak yang anemia..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: