Oleh: gayul | Desember 19, 2009

Mensiasati Bau Mulut

Ini problem yang hampir menyangkut siapa saja. Halitosis atau bau mulut acap kali menjadi pertanda adanya penyakit kronis tertentu. Bisa sakit gula, sinusitis, pengerasan hati, atau gangguan fungsi ginjal. Namun, yang paling sering justru menyangkut gigi dan gusi.

Dinda gadis cantik rupawan tanpa cela. Namun, setengah mati ia berusaha, jangankan pacar, teman pun menjaga jarak. Ketika ia mengeluh pada sobat kentalnya, baru ia mendapat jawaban, “Sori, kurasa bau mulutmu itu problemnya.”

Jarang sekali orang menyadari bahwa mulutnya mengeluarkan abab (hawa) tak sedap karena memang sulit mengecek bau mulut sendiri. Orang lain pun enggan mengatakannya, kecuali kita bertanya. Atau orang lain itu akrab dengan kita.

Penyebab bau mulut bisa amat sederhana dan langsung. Petai, jengkol, duren, bawang putih, siapa yang tahan? Tetapi karena tidak bersifat permanen, dan penyebabnya jelas, si “penderita” pun tidak serius memikirkannya. Kebiasaan anak kecil memasukkan benda-benda asing, seperti kertas tisu, ke dalam hidungnya, juga dapat mengakibatkan terkumpulnya bakteri pada sumbatan tisu itu, sehingga setelah beberapa lama dapat menimbulkan bau. Bau itu tidak selalu hanya pada hidung, bahkan seolah-olah dari sekujur tubuhnya.

Manis menusuk
Namun sering kali, menurut dr. H. Chudahman Manan, D.S.P.D, K.G.E.H, spesialis pencernaan pada RSCM, Jakarta, bau mulut merupakan gejala dari kelainan organik akibat penyakit kronis. Bila dokter yang telah berpengalaman mencium bau manis menusuk ketika memasuki kamar dengan sederet penderita, ia akan segera menduga adanya penderita sirosis (pengerasan hati) yang sudah mencapai tahap menjelang koma. Gangguan lever yang kronis sering menyebabkan halitosis (bau mulut) akibat metabolisme protein dan lemak tidak berjalan semestinya lantaran terganggunya fungsi hati. Maka dari komponen-komponen itu terbentuk metabolik yang dapat dikeluarkan lewat saluran pernapasan dengan bau spesifik.

Gangguan fungsi ginjal juga menyebabkan halitosis. Pada penderita terdapat kadar ureum yang tinggi, yang kemudian beredar dalam darah. Melalui proses kimiawi, dihasilkan amoniak yang berbau menyengat itu. Komponen ini kemudian masuk ke dalam sistem pernapasan. Maka bau mulut penderita sedikit ke arah aroma amoniak.

Pada penderita diabetes pun, bila gula darahnya tak terkontrol dan mungkin juga tinggi, bisa timbul halitosis. Baunya pun khas.

Bau mulut bisa juga disebabkan oleh penyakit yang tidak kronis. Misalnya saja gangguan paru-paru. Pasien bronkhitis kronis, dengan penyakit paru-paru obstruksi di mana biasanya telah terjadi infeksi-infeksi sekunder, biasanya juga menderita halitosis.

Gangguan THT, misalnya pasien yang mengalami sinusitis berat atau tonsilitis, juga demikian. Bahkan penyakit maag pun dapat menimbulkan bau mulut, bila penyakit itu karena kuman Helicobacter pylory. Ini akibat peranan kuman itu dalam metabolisme amoniak. Hidup dalam lingkungan basa, ia sendiri mengandung enzim uriase yang dapat mengubah amoniak.

Yang menarik, menurut dr. Manan, pada 30% pasien yang datang ke kamar konsultasinya karena keluhan halitosis, masalahnya bersumber pada kejiwaan. Pasien yang mengalami depresi dan memasuki tahap neurosis, akan mengalami bermacam gejala. Salah satunya, hilangnya kepercayaan diri. Ia merasa orang menghindarinya saat dia berbicara (padahal tidak) lalu mereka-reka penyebabnya pasti karena bau mulutnya.

Yang pasti, halitosis juga sering dialami jika orang sulit buang air besar karena produk metabolisme oleh kuman-kuman usus terhadap sisa-sisa makanan tertumpuk, kemudian timbul gas-gas yang memberikan bau tak sedap itu.

Namun, diakui oleh dr. Manan, penyebab halitosis yang paling umum justru gigi. Maklum saja, gigi termasuk organ tubuh yang kurang diperhatikan dengan baik. Kecenderungan malas berobat ke dokter gigi dapat ditemui di semua lapisan masyarakat, termasuk yang berpendidikan baik. Rupanya, perasaan gamang pada pencabutan gigi, misalnya, masih menghinggapi banyak orang. Maka kalau ada keluhan sakit gigi, diambil jalan tergampang: minum saja obat analgetik alias pengurang rasa sakit. Padahal gigi berlubang yang tak terawat dengan baik akan membentuk abses (pengumpulan nanah). Bakteri yang hidup di dalamnya pasti akan memetabolisasikan jaringan-jaringan mati di situ, yang akhirnya akan menimbulkan bau.

Rajin rawat gigi
Jadi apa yang harus dilakukan seandainya kita sudah mendapat konfirmasi dari orang lain, bahwa memang mulut kita berbau? Sebelum ke ahli yang lain, sebaiknya konsultasi dulu ke dokter gigi, demikian anjuran Prof. Mel Rosenberg, Ph.D. dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Tel Aviv, dalam Bad Breath, yang dimuat dalam homepage British Dental Association di Internet. Bila tidak menemukan masalah pada gigi dan mulut, saatnya kita berkonsultasi ke dokter spesialis THT. Bila belum juga ditemukan masalahnya, barulah ke dokter ahli penyakit dalam karena dikhawatirkan bau mulut itu merupakan bagian dari kelainan organ dalam tubuh.

Ketika akan berkonsultasi ke dokter gigi, jangan gunakan obat kumur, obat pengharum mulut, merokok, mengunyah permen, makan, dan minum. Usahakan bau yang nanti dihadapi oleh dokter gigi, memang bau yang tipikal kita idap, sehingga pelacakan sumber baunya dapat dilakukan dengan benar. Pada orang dengan gigi dan gusi yang sehat, bau itu biasanya berasal dari bagian terbelakang lidah. Dokter gigi dapat melakukan pengecekan dengan mengusapkan sendok plastik ke daerah ini. Kalau benar di situ sumbernya, akan dianjurkan untuk membersihkannya dengan sikat gigi atau alat khusus pengerok lidah.

Dokter gigi mungkin akan membandingkan bau udara dari mulut dan hidung penderita untuk menentukan sumber bau, dengan cara menutup salah satu dan membaui yang lain. Namun, tidak semua dokter memandang ini cara yang efektif. Dr. Manan, misalnya, meragukannya, karena rongga mulut dan hidung berhubungan, baunya pun akan tercampur.

Kadangkala bau mulut disebabkan oleh gusi yang tidak sehat, terutama bila mengusap bagian antara gigi dan gusi menimbulkan bau tak sedap. Meski dokter gigi akan memberikan cara perawatan khusus sesuai kondisi yang diderita pasien, kita sendiri sebagai pasien memegang peranan besar dengan melakukan perawatan yang baik setiap hari. Karena itu Prof. Rosenberg menganjurkan:

  • Periksakan gigi ke dokter gigi secara teratur.
  • Bersihkan sela-sela gigi dengan dental floss, pilih yang netral tanpa pengharum. Cek baunya. Bersihkan lagi kalau berbau.
  • Gosok gigi dan bersihkan gusi secara teratur.
  • Banyak minum.
  • Kunyah permen karet bebas gula selama 1 – 2 menit, terutama bila mulut terasa kering. Bisa juga kunyah daun peterselli, bunga cengkih, atau biji adas.
  • Berkumur dan gosok gigi setelah makan atau minum produk susu, ikan, dan daging.
  • Tanyakan kepada dokter gigi, obat kumur mana yang secara klinis telah terbukti efektivitasnya dalam melawan bau mulut. Paling baik menggunakannya di saat menjelang tidur malam.
  • Makan lalap sayuran segar yang berserat.
  • Tidak merokok karena mempertinggi risiko timbulnya bau mulut.
  • Jika Anda memakai gigi palsu, saat malam hari rendam gigi palsu dalam cairan antiseptik, kecuali bila dokter gigi Anda melarangnya.

Dari segi pencernaan pun anjuran dr. Manan tidak jauh berbeda. Serat tinggi pada sayuran dan buah memperlancar buang air serta memperbaiki lapisan dalam saluran pencernaan. Selain itu, olahraga secara teratur akan membuat gerak usus terpelihara konstan. Dengan bagusnya gerakan usus, proses dari makan sampai buang air besar akan berjalan normal. Maka, pada orang yang berolahraga secara teratur, jarang timbul problem konstipasi alias sembelit. (Lily Wibisono)


Responses

  1. sayangnya mulutq gak bau,,,,heheheheheheeh
    thx deh

  2. okey p.dokter…..hahahah…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: